Postingan

Menampilkan postingan dengan label Surat untuk Penguasa

Alas Tidur Nabi

*** Tersentak saya ketika pada 2 Februari 2013 membaca Suara Merdeka. Terpampang di halaman depan, sebuah berita tentang gaya hidup seseorang yang baru saja ditunjuk menjadi presiden baru sebuah partai bersimbol tangkai padi diapit bulan sabit kembar. Diberitakan koran itu, si presiden partai menyatakan akan mengubah gaya hidupnya. Dia berjanji akan melepas sebuah jam tangan yang selama ini setia melingkar di tangan kirinya. Jam tangan itu bukan sembarang jam tangan. Merek jam itu Rolex dengan banderol Rp 70 jutaan. Yang membuat saya tak habis pikir sampai saat menulis tulisan ini adalah komentarnya ketika dikonfirmasi tentang gaya hidupnya itu. Ia menganggap jam seharga Rp 70 jutaan itu hanyalah kepantasan sebagai pejabat publik , dan hanya sebagai aksesori, bukan gaya hidup. Sampai detik ini saya masih belum bisa menerima logika hubungan atau korelasi antara memakai barang mewah dengan kepantasan sebagai pejabat publik. Kalau saya mengikuti logika presiden...

Mimpi Dua Puluh Tahun

*** Kepada Yang Terhormat: Prof. Dr. Djohar Arifin Husin Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia Periode 2011-2014 Pak Djohar, mari kita merenung sejenak tentang “belum tiba waktunya” timnas sepakbola kita meraih jawara Asia Tenggara. Pantaskah kita juara? Jika timnas hanya dipersiapkan tiga bulan. Bandingkan dengan Harimau Malaya yang sudah disiapkan dua tahun yang lalu. Pantaskah kita juara? Jika ujicoba internasional hanya satu kali. Itupun melawan negeri pecahan: Timor Leste. Tengoklah Malaysia yang berani meladeni MU dan Chelsea. Pantaskah kita juara? Jika pengurus sepakbola negeri ini terus-menerus berkutat dalam konflik kepentingan tak kunjung usai. Lalu kapan ngurus bolanya? Pantaskah kita juara? Jika untuk masuk stadion saja, para suporter harus meregang nyawa. Padahal mereka rela membayar berapapun harga tiketnya. Pantaskah kita juara? Jika kualitas rumput SUGBK jauh lebih buruk dari lapangan bola di pelosok Jepara dan Jayap...

Melawan Lupa

*** Untuk: Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri (Rektor Universitas Indonesia) dan Dr. (HC) Abdullah bin Abdul Aziz Al-Saud (Raja Arab Saudi) *** Ruyati. Pernah dengar atau masih ingat nama itu? Atau sudah lupa? Padahal beberapa waktu lalu nama itu sempat menjadi bahan obrolan di seantero negeri. Kini, nama itu seolah hilang, atau memang sengaja dihilangkan oleh penguasa yang gerah? Ruyati. Seorang buruh migran asal Bekasi yang pulang hanya nama. Betul-betul hanya namanya saja yang pulang ke tanah air. Jasadnya kini terbujur kaku ditimbun teriknya pasir pekuburan tanah Arab. Ruyati. Contoh manusia yang dirampas hak-hak dasarnya. Bahkan hak paling dasar manusia: hak hidup. Nasibnya sungguh malang. Jika teman-temannya sesama TKW bisa pulang dengan nyawa masih melekat di badan, meskipun sekujur tubuh dan jiwanya sudah koyak-moyak tak karuan lagi dikarenakan siksaan brutal bin biadab di negeri seberang, namun Ruyati, jangankan pulang dengan selamat, peti ma...