Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kenangan untuk Sahabat

Gunungtawang (Jilid 7)

*** Fatia yang mengirimiku kabar itu. “Mas, Bapak dirawat di rumah sakit,” hanya enam kata isi pesan singkatnya yang masuk ke telepon selulerku semalam. “Kenapa Arin tidak mengabariku,” selidik hati kecilku. Tanpa panjang pikir, yang nantinya akan berburuk sangka, aku langsung bergegas menyiapkan diri. Rencana esok hari aku akan pulang kampung. Semoga selamat sampai tujuan. *** Sang waktu segera menuju pukul tujuh pagi ketika aku mencium tangan ibu untuk pamit. Perjalanan ini sengaja kutempuh sendirian. “Aku besok baru bisa nyusul ke sana, Zan,” jawab Farid ketika kuajak berangkat bareng. “Masih ada pekerjaan yang harus selesai hari ini juga,” pungkasnya memastikan. “Okelah. Yang penting sama-sama sampai dengan selamat . Kutunggu di sana… , ” a ku memaklumi . *** Sejak bakda subuh tadi sengaja kuminta izin ayah untuk meminjam motornya. Sekaligus kuutarakan niatku untuk pergi ke kampung. Maklum, untuk perjalanan luar kota, aku tidak tega un...

Segalanya Akan Kembali Kepada-NYA

*** Anak itu akhirnya pergi… Fajar telah menyingsing, ketika sebuah notifikasi masuk ke gawai andalanku. Getarannya mampu menggerakkan tubuhku untuk segera mengambilnya. Bapak mengirimkan pesan suara. Mengabarkan bahwa Si Kecil sudah tiada. Semalam, sekitar pukul setengah sebelas, Ibu, Bapak, dan kakak-kakakku sempat menyambangi Si Kecil di ruang perawatannya untuk melihat keadaannya. “Badannya terlihat sangat kurus, kondisinya semakin melemah, dan tubuhnya sulit untuk bergerak. Hanya nafasnya yang terlihat terengah-engah,” suara Bapak terdengar di seberang sana menceritakan saat-saat terakhir mereka menemani Si Kecil. Kata Bapak, sudah beberapa minggu terakhir ini anak itu mengalami penurunan fisik yang drastis. Badannya kurus, nafsu makan berkurang, tidak lincah lagi, dan sering hanya menghabiskan waktu di pembaringan. “Mungkin ini yang terbaik bagi Si Kecil. Diikhlaskan saja…,” pungkas Bapak membesarkan hatiku. *** Aku dan keluargaku tidak tahu a...

Safitri

Gambar
*** Obrolan hangat dengan seorang gadis, pada suatu senja, di atas kereta Semarang-Jakarta... *** “Saya turun di Jatinegara atau Manggarai saja mas kalau bisa... Kalau memang harus ke Gambir ya pulangnya naik gojek atau taksi... Kos-kosan saya di Salemba itu nanggung... Dekat ke mana-mana tapi jarang ada angkutan umumnya... Jadi kalau tidak naik taksi, ya gojek... Kalaupun naik busway nanti muter-muter, apalagi kalau naik angkot, masih harus masuk ke gang lagi agak jauh....” Urai Safitri menjawab rasa penasaranku mengenai tempat tujuannya selepas turun dari kereta nanti. Seketika sifat kuriositas mendorongku bertanya lebih jauh lagi, untuk kemudian langsung kusambut dengan rasa penasaran yang lain, “Oh, kosmu di Salemba? Salemba-nya mana tho? Sama halte Carolus dekat gak?” “Dekat...,” Jawabnya singkat. Kuhela nafas sejenak. Kutengok jam pemberian kakak yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Limabelas menit selepas dari Stasiun Pemalang. Bi...

Gunungtawang (Jilid 6)

*** Bangunan Masjid Istiqomah mempunyai dua bagian ruang: ruang untuk jamaah pria yang terletak di lantai bawah, dan ruang sh a lat khusus untuk jamaah wanita yang terletak di lantai dua. Ruangan untuk jamaah pria dibagi menjadi dua, ruangan yang lebih dalam memiliki luas lebih kecil dibandingkan ruangan yang terletak di luar. Antara kedua ruangan tersebut dibatasi sekat berupa dinding yang memiliki tiga pintu. Jamaah yang berada di ruangan yang pertama dapat langsung melihat tempat pengimaman dan mimbar khutbah. Satu hal yang memberikan kesan berbeda adalah ruang utama yang di dalam ini tampak lebih temaram dari ruang satunya. Kesan ini muncul karena di ruangan ini terhampar karpet yang melapisi seluruh lantai dan di keempat sisinya dibatasi oleh dinding. Tidak seperti ruang satunya yang hanya beralaskan keramik putih dan dikelilingi oleh pintu-pintu kaca. Di sebelah utara dari bangunan masjid terdapat tempat wudhu dan peturasan khusus untuk jamaah wanita. Sedangka...

Percaya Buta

*** Seorang wanita pedagang kertas berkata kepada saya. Begitu percayanya kita ketika membeli kertas satu rim. Sampai-sampai kita tidak perlu menghitung apakah jumlah kertas yang kita beli memang benar-benar berjumlah lima ratus lembar. Seorang wanita kasir minimarket berkata kepada saya. Begitu percayanya kita dengan hitungannya. Sampai-sampai kita kadang tidak melihat dan menghitung kembali struk pembayaran yang kita terima apakah sesuai dengan apa yang kita beli. Seorang wanita penjual bensin berkata kepada saya. Begitu percayanya kita ketika membeli bensin, entah eceran di lapak tepi jalan atau di SPBU . Sampai-sampai kita tidak perlu mengecek apakah jumlah bensin yang kita beli memang benar-benar sesuai takaran . Seorang wanita di ibukota sana berkata kepada saya. “Maaf mas, saya cerewet. Saya sering lupa. Saya merasa mas adalah teman dekatku dari dulu...” Begitu percayanya dia kepada saya. Padahal jumlah bilangan bulan kami saling kenal belum melebihi...

Gunungtawang (Jilid 5)

*** Selepas khatib mengakhiri petuahnya dan menutup dengan lantunan doa, para jamaah saling bersalam-salaman satu sama lain. Bersama Farid dan Hamdani, aku masuk ke dalam mushalla untuk ikut salam-salaman. Seorang pria paruh baya yang sudah mengenalku tiba-tiba berkata sedikit berbisik kepadaku, “Nanti jangan pulang dulu, Mas. Ikut tasyakuran bersama-sama.” Aku iyakan saja. Sambil tersenyum tentunya. Setelah acara salam-salaman selesai aku bersama teman-teman ikut membantu melipat karpet -karpet yang digunakan untuk alas sh a lat tadi. Ternyata ada maksud lain mengapa karpet-karpet di mushalla ini harus dirapikan. Sejurus kemudian kulihat ibu-ibu yang tergopoh-gopoh mengusung pan c i -panci . Tidak hanya itu saja. Menyusul bertubi-tubi ibu-ibu yang lain membawa bakul berisikan nasi putih, beraneka masakan, ada yang membawa piring, sendok, gelas, dan teko berisikan air. Ada juga yang membawa camilan makanan -makanan kecil. Bermacam makanan mulai dari appetizer...

Suatu Malam di Sudut Ibu Kota

Gambar
*** Ternyata ada. Dan saya me-LDR-nya secara langsung. Lihat Dengar Rasakan maksudnya. Komunitas tunawicara dan tunarungu. Saya jadi ingat lagunya almarhum Mas Chrisye. Saudara-saudara kita ini, lebih dulu membuktikan, bahwa kelak ada suatu masa di mana “mulut dikunci, kata tak ada lagi”. Hanya tangan merekalah yang bicara. Tiap Sabtu malam, mereka menggelar kopdar di sini. Tempat di mana rasa kangen saya terhadap kampung halaman dapat terobati. Tempat di mana rasa rindu saya terhadap nasi kucing, susu jahe, wedang jeruk, tempe dan tahu bacem dapat menemukan peraduannya. *** Sepulang kerja, angkringan pojok flyover Senen, 29 Mei 2016, 00.03 WIB

STOVIA

Gambar
*** Sebuah istilah yang sudah kudengar belasan tahun lalu, sejak ibu guru sejarah menguntaikan kisah perjuangan para pelopor republik. Tempat di mana ruh-ruh perjuangan mulai ditiupkan. Tempat di mana jiwa-jiwa pemberontakan mulai diinisiasikan. Tempat di mana kecintaan terhadap negeri ditinggikan melebihi keakuan. Kini, tempatku tinggal, melepas penat, merebahkan lelah, dan menyemayamkan rindu, untuk mengabdi pada pertiwi, hanya sepelemparan batu dari tempat dimulainya kebangkitan negeri ini. *** Weltevreden, 20 Mei 2016, 22.42 WIB

Kembalilah kepada Tuhanmu

*** Wahai jiwa yang tenang.. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku.. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.. [Al-Fajr: 27-30] *** Hari ini adalah istimewa. Tanggal lima, bulan kelima. Atas dasar cinta, mereka berdua menemui Tuhan. Memohon agar diberikan keselamatan bagi penghuni kolong langit ini. Mereka, Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam dan Isa Almasih putra Maryam, belasan abad lampau, mengajarkan bahwa: doa, harapan, keikhlasan, dan penyerahan diri, harus selalu digantungkan ke Yang Di Atas. Tersebab itulah, hari ini disebut dengan “Ascension Day”.. Hari Kenaikan.. *** Segaran, 5 Mei 2016 / 27 Rajab 1437, 02.07 WIB

Gunungtawang (Jilid 4)

*** Kawan , ini termasuk pengalaman paling gila dalam hidupku. Shalat Idul Adha di atap rumah orang. Apalagi alasannya kalau bukan terlambat bangun tidur dan kehabisan barisan shalat. Bahkan untuk barisan yang paling belakangpun aku tidak mendapatkannya. *** “ Allaaahu akbar ,” terdengar jelas dari speaker mushalla, suara sang imam sudah memulai rakaat pertama shalat id. Padahal kami bertiga baru saja keluar dari rumah Pak Darmadi. Parahnya, masih sempat-sempatnya kami berdebat ke mana akan melaksanakan shalat id: antara Masjid Istiqomah, atau di mushalla saja, yang notabene lebih dekat sepelemparan batu dari rumah. Sementara itu dari speaker Masjid Istiqamah, terdengar mendayu-dayu suara sang imam melantunkan Al-Fatihah. Semakin membuat perasaan kami gundah gulana. “ Wes.. ayo neng mushalla ae, brooo ...,” Farid menghentikan perdebatan. Belum sempat kami berpikir untuk mengiyakan usulannya, kulihat dia sudah mengambil langkah seribu ke arah mushalla. Setibanya d...

Supersemar dari Sawangan

*Surat Pengharapan Sebelas Maret* *** Teman-teman, Tinggal selangkah lagi cita-cita orangtua dan keluarga kita tercapai. Cita-cita yang digantungkan di pundak kita. Bahwa anak, suami, istri, dan saudaranya, akan sah menjadi abdi negara. Tanggung jawab menulis Rancangan Aktualisasi (RA) adalah awalan kecil. Ujian sesungguhnya bagi kita masih terbentang panjang. Puluhan tahun ke depan. Dan, ujian tersebut, jauh lebih berat berlipat-lipat daripada sekadar RA. Teman-teman, Dalam hal RA, kita hanya perlu menuliskan apa yang kita lakukan. Dan melakukan apa yang kita tuliskan. Jangan terbebani dengan pikiran takut salah, miskin ide, kehabisan inspirasi, tidak ada mood, belum ada wangsit, lagi bete. Enyahkan dari benak kita yang demikian itu. Teman-teman, Berbagai ujian dan kesulitan sudah pernah kita rasakan. Ujian SD, SMP, SMA, UMPTN, sidang skripsi, dan tentunya yang paling fenomenal bagi kita, ujian seleksi CPNS. Dan, kenyataannya, kita dapat ...