Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tribun Penonton

Garuda Asing

*** Saya tidak bisa membayangkan seperti apakah euforia bangsa ini jika Indonesia mampu menembus Piala Dunia. Lha wong dengan tampil di Piala AFF saja sudah sedemikian gegap gempitanya masyarakat pecinta bola tanah air. Belum pernah pemberitaan terhadap Tim Nasional kita membanjiri berbagai media massa tanah air. Kini hampir setiap hari tivi-tivi kita selalu meng- update info terkini seputar para punggawa Timnas. Bahkan dua stasiun tivi berita nasional saling berlomba untuk membedah kekuatan timnas dan lawannya dalam sebuah diskusi. Padahal dalam hari-hari biasa, acara diskusi tersebut selalu diisi dengan pembahasan tentang silang sengkarut dunia perpolitikan negeri ini. Nah, atmosfir ini seakan-akan mengulang suasana serupa pada tahun 2007 yang lalu. Sedikit kilas balik beberapa tahun silam ketika Piala Asia dihelat di Jakarta, waktu itu Tim Nasional kita selalu menjadi bahan pembicaraan di mana-mana. Meskipun gagal ke perempat final, namun penampilan kita dapat dikatakan memb...

Dewi Fortuna

*** Saya masih ingat. Pertama kali saya mengenalnya empat belas tahun yang lalu. Ketika berumur sepuluh tahun. Persis setelah Indonesia kalah adu penalti melawan Thailand. Sang komentator di tivi sering sekali menyebut, bahwa Dewi Fortuna belum berpihak kepada Indonesia. Sontak saya bertanya kepada ibu saya, yang juga menonton partai itu. “Bu, apakah Dewi Fortuna benar-benar ada?” Sambil tersenyum, ibu menjawab, “Dewi Fortuna artinya keberuntungan.” “Hanya istilah saja,” begitu tegas ibu. Dalam benak saya, gambaran makhluk menyerupai malaikat pun akhirnya sirna. … Empat belas tahun kemudian, saya (dan ibu saya yang juga masih mau menonton), kembali harus melihat Indonesia kalah adu penalti di tempat yang sama. Meskipun lawannya berbeda. Kali ini, saya semakin yakin bahwa Dewi Fortuna itu benar-benar TIDAK ADA. Jika dia benar-benar ada, niscaya dia akan memihak kepada negeri ini. Di negeri ini, dia akan dipuja dua ratus tiga puluh juta manusi...

Mimpi Dua Puluh Tahun

*** Kepada Yang Terhormat: Prof. Dr. Djohar Arifin Husin Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia Periode 2011-2014 Pak Djohar, mari kita merenung sejenak tentang “belum tiba waktunya” timnas sepakbola kita meraih jawara Asia Tenggara. Pantaskah kita juara? Jika timnas hanya dipersiapkan tiga bulan. Bandingkan dengan Harimau Malaya yang sudah disiapkan dua tahun yang lalu. Pantaskah kita juara? Jika ujicoba internasional hanya satu kali. Itupun melawan negeri pecahan: Timor Leste. Tengoklah Malaysia yang berani meladeni MU dan Chelsea. Pantaskah kita juara? Jika pengurus sepakbola negeri ini terus-menerus berkutat dalam konflik kepentingan tak kunjung usai. Lalu kapan ngurus bolanya? Pantaskah kita juara? Jika untuk masuk stadion saja, para suporter harus meregang nyawa. Padahal mereka rela membayar berapapun harga tiketnya. Pantaskah kita juara? Jika kualitas rumput SUGBK jauh lebih buruk dari lapangan bola di pelosok Jepara dan Jayap...

Nomor Tujuh Belas

*** Suatu sore, kulihat seorang bocah laki-laki berkejar-kejaran dengan beberapa temannya. Satu hal yang cukup menyita perhatianku adalah baju yang dikenakannya. Si bocah itu mengenakan kaus merah dengan gambar burung garuda di bagian dada. Dan, kaus itu bernomor punggung tujuh belas. Di atas nomor tertera jelas satu kata: IRFAN. Ah… Andai saja Alfred Riedl mampu melihat asa di mata bocah itu… *** Saya yakin, di negeri ini, jutaan orang yang sebagian besar adalah anak-anak, bangga memakai kaus timnas dengan nomor tujuh belas, seperti bocah tadi. Itu artinya, jutaan anak di negeri ini menggantung asa yang tinggi kepada pemain timnas, sang pujaan hati dan idola mereka. Pun, jutaan anak di negeri ini ingin melihat timnas berprestasi lewat bintang pujaannya pula. Asa dan mimpi yang sudah puluhan tahun tidak terwujud. Sayangnya… Asa, harapan, dan impian anak-anak itu harus lenyap. Lenyap ditelan arogansi dan tirani petinggi sepakbola di Jakarta sana. Para dedengkot otorit...

Kegagalan Penalti

*** Hari ini, tepat satu bulan yang lalu, Firman Utina gagal mengeksekusi penalti pada partai Final AFF Cup 2010. Meskipun demikian, marilah kita memaklumi dan menerimanya dengan legawa. Toh, pemain terbaik sejagat pun pernah pula mengalami kegagalan yang sama. *** Ada satu hukum sepakbola yang tidak akan pernah berubah. Bahwa seorang penjaga gawang tidak akan pernah disalahkan meskipun gagal menahan tendangan penalti. Sebaliknya, hujatan dan makian sudah pasti akan diarahkan kepada si penendang, jika bidikannya tidak dapat menembus gawang. Dengan kata lain, hukum tersebut mengatakan: tendangan penalti 99 persen sudah pasti masuk ke gawang. Dan yang seperseratus persen lagi adalah bagian dari keberuntungan. *** Cerita kegagalan tendangan penalti pertama kali saya dapatkan ketika menonton final Piala Dunia 1994 melalui layar kaca. Waktu itu umur saya masih tujuh tahun. Partai puncak helatan akbar di negeri Bill Clinton itu mempertemukan dua kutub utama sepakbola dun...