Postingan

Menampilkan postingan dengan label Gunungtawang

Gunungtawang (Jilid 7)

*** Fatia yang mengirimiku kabar itu. “Mas, Bapak dirawat di rumah sakit,” hanya enam kata isi pesan singkatnya yang masuk ke telepon selulerku semalam. “Kenapa Arin tidak mengabariku,” selidik hati kecilku. Tanpa panjang pikir, yang nantinya akan berburuk sangka, aku langsung bergegas menyiapkan diri. Rencana esok hari aku akan pulang kampung. Semoga selamat sampai tujuan. *** Sang waktu segera menuju pukul tujuh pagi ketika aku mencium tangan ibu untuk pamit. Perjalanan ini sengaja kutempuh sendirian. “Aku besok baru bisa nyusul ke sana, Zan,” jawab Farid ketika kuajak berangkat bareng. “Masih ada pekerjaan yang harus selesai hari ini juga,” pungkasnya memastikan. “Okelah. Yang penting sama-sama sampai dengan selamat . Kutunggu di sana… , ” a ku memaklumi . *** Sejak bakda subuh tadi sengaja kuminta izin ayah untuk meminjam motornya. Sekaligus kuutarakan niatku untuk pergi ke kampung. Maklum, untuk perjalanan luar kota, aku tidak tega un...

Gunungtawang (Jilid 6)

*** Bangunan Masjid Istiqomah mempunyai dua bagian ruang: ruang untuk jamaah pria yang terletak di lantai bawah, dan ruang sh a lat khusus untuk jamaah wanita yang terletak di lantai dua. Ruangan untuk jamaah pria dibagi menjadi dua, ruangan yang lebih dalam memiliki luas lebih kecil dibandingkan ruangan yang terletak di luar. Antara kedua ruangan tersebut dibatasi sekat berupa dinding yang memiliki tiga pintu. Jamaah yang berada di ruangan yang pertama dapat langsung melihat tempat pengimaman dan mimbar khutbah. Satu hal yang memberikan kesan berbeda adalah ruang utama yang di dalam ini tampak lebih temaram dari ruang satunya. Kesan ini muncul karena di ruangan ini terhampar karpet yang melapisi seluruh lantai dan di keempat sisinya dibatasi oleh dinding. Tidak seperti ruang satunya yang hanya beralaskan keramik putih dan dikelilingi oleh pintu-pintu kaca. Di sebelah utara dari bangunan masjid terdapat tempat wudhu dan peturasan khusus untuk jamaah wanita. Sedangka...

Gunungtawang (Jilid 5)

*** Selepas khatib mengakhiri petuahnya dan menutup dengan lantunan doa, para jamaah saling bersalam-salaman satu sama lain. Bersama Farid dan Hamdani, aku masuk ke dalam mushalla untuk ikut salam-salaman. Seorang pria paruh baya yang sudah mengenalku tiba-tiba berkata sedikit berbisik kepadaku, “Nanti jangan pulang dulu, Mas. Ikut tasyakuran bersama-sama.” Aku iyakan saja. Sambil tersenyum tentunya. Setelah acara salam-salaman selesai aku bersama teman-teman ikut membantu melipat karpet -karpet yang digunakan untuk alas sh a lat tadi. Ternyata ada maksud lain mengapa karpet-karpet di mushalla ini harus dirapikan. Sejurus kemudian kulihat ibu-ibu yang tergopoh-gopoh mengusung pan c i -panci . Tidak hanya itu saja. Menyusul bertubi-tubi ibu-ibu yang lain membawa bakul berisikan nasi putih, beraneka masakan, ada yang membawa piring, sendok, gelas, dan teko berisikan air. Ada juga yang membawa camilan makanan -makanan kecil. Bermacam makanan mulai dari appetizer...

Gunungtawang (Jilid 4)

*** Kawan , ini termasuk pengalaman paling gila dalam hidupku. Shalat Idul Adha di atap rumah orang. Apalagi alasannya kalau bukan terlambat bangun tidur dan kehabisan barisan shalat. Bahkan untuk barisan yang paling belakangpun aku tidak mendapatkannya. *** “ Allaaahu akbar ,” terdengar jelas dari speaker mushalla, suara sang imam sudah memulai rakaat pertama shalat id. Padahal kami bertiga baru saja keluar dari rumah Pak Darmadi. Parahnya, masih sempat-sempatnya kami berdebat ke mana akan melaksanakan shalat id: antara Masjid Istiqomah, atau di mushalla saja, yang notabene lebih dekat sepelemparan batu dari rumah. Sementara itu dari speaker Masjid Istiqamah, terdengar mendayu-dayu suara sang imam melantunkan Al-Fatihah. Semakin membuat perasaan kami gundah gulana. “ Wes.. ayo neng mushalla ae, brooo ...,” Farid menghentikan perdebatan. Belum sempat kami berpikir untuk mengiyakan usulannya, kulihat dia sudah mengambil langkah seribu ke arah mushalla. Setibanya d...

Gunungtawang (Jilid 3)

*** Hari i ni Jum’at pertama setibanya kami di Gunungtawang. Jarum jam sudah bergeser melewati angka tigapuluh menuju pukul duabelas siang. “Jangan lupa bawa uang untuk mengisi kotak infa k ,” kata Pak Darmadi di depan kamarku. Sengaja dia naik ke atas, untuk mengingatkan dan mengecek kesiapan kami. Sambil mengencangkan sarung, kujawab singkat, “Iya, Pak!” Setelah menyunggingkan senyum, beliau langsung turun ke bawah . Beberapa saat kemudian, dari atas balkon, kulihat beliau sudah berjalan ke arah barat. Arah di mana Masjid Istiqomah berada. Langsung kuhampiri ranselku , ransel pinjaman dari Ustadz Wafi, yang sejak kedatangan kami tiga hari yang lalu, belum semuanya kukeluarkan isinya. Kuambil selembar uang dari dompet cokelatku. “Inza mana, bos?” tanyaku pada Farid. “Sudah berangkat duluan tadi,” jawabnya mematut di depan kaca gelap, hiasan daun pintu balkon, sambil meratakan minyak rambut diikuti dengan sapuan sisir oranye di kepalanya. Sisir yang ...

Gunungtawang (Jilid 2)

Gambar
*** Sejuk. Itulah kesan pertamaku ketika menginjakkan kaki di Wonosobo. Kesan yang cukup untuk mengurangi kepenatan akibat perjalanan darat selama tiga jam dari Ngaliyan. Rombongan KKN berhenti di Kantor Bupati. Kantor ini terletak di jantung kota Wonosobo. Tepat di depannya, alun-alun Wonosobo yang cukup indah itu, terhampar. Aku cukup kagum dengan alun-alun itu. Menurutku alun-alun itu jauh lebih cantik dan indah daripada Simpang Lima di kotaku. Apalagi jika dibandingkan dengan alun-alun Semarang kuno di Johar yang sekarang sudah tidak jelas bentuk dan peruntukannya. Yang kurasakan adalah kecewa mengapa pemerintah kotaku tidak becus mengelola alun-alun yang menurut sebagian besar orang adalah jantung dan ikon sebuah kota. Setelah rehat sejenak, akhirnya rombongan dipersilahkan memasuki pendopo kabupaten. Acara serah terima akan segera digelar. Ternyata dalam acara tersebut, dua orang penting (Pak Jamil dan Pak Kholiq) yang seharusnya hadir, malah memilih absen. Mereka han...

Gunungtawang (Jilid 1)

Gambar
*** Aku masih ingat hari itu, Selasa, tanggal enam bulan kesepuluh tahun dua ribu sembilan. Hari di mana aku akan memulai hidup jauh dari rumah, jauh dari ibu, jauh dari ayah, jauh dari kakak, dan jauh dari rental komputerku; kelima hal yang sejak kecil menjadi bagian dari nafas dan detak nadiku. Wonosobo. Ya, kota dingin di lereng gunung Sumbing dan Sindoro itulah yang akan kutinggali selama empat puluh lima hari ke depan. Bukan tinggal sekedar tinggal, tetapi untuk melaksanakan kewajibanku sebagai mahasiswa jika aku masih ingin lulus kuliah: KKN, Kuliah Kerja Nyata. Beruntungnya KKN kali ini masih program PBA, Pemberantasan Buta Aksara. Itu artinya, biaya yang harus kami (mahasiswa KKN) keluarkan tergolong murah, karena memang program PBA ini adalah program pemerintah. Jadi, kas negaralah yang digunakan pemerintah untuk membiayai sebagian besar program ini. Entah apakah ada yang bocor dalam anggaran program ini. Aku tidak tahu. Setelah cek sana, cek sini, dan dirasa s...