Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif

Orang-Orang Luar Biasa

*** Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. at-Tin [95]: 4) *** Bagaimana caranya menghasilkan melodi dari sebuah gitar tanpa menggunakan bantuan jari-jemari? Sementara di tubuh gitar terdapat enam dawai dan sembilanbelas fret yang harus dijelajahi oleh jari sebelah tangan; sedangkan jari tangan satunya lagi musti pandai memetik senar-senar di atas lubang resonansi untuk menghasilkan nada yang pas. Bagaimana teknik mengemudikan mobil hanya dengan menggunakan dua kaki? Sementara selain kemudi juga ada tuas persneling dan rem tangan, pijakan kopling dan rem, serta pedal gas, yang tentunya membutuhkan koordinasi dari sekian indera, di samping kematangan jiwa yang prima, serta fisik yang waskita.  Bagaimana memotret dengan sebuah kamera single lens reflex tanpa mengandalkan pergelangan tangan? Sementara di penampang gawai “alat penangkap momentum” itu terdapat lensa putar manual dan sekian tombol, yang meskipun kecil dari segi ukuran, namun memil...

Bakul Mendoan

*** Kami memanggilnya Mbah Yem. Usianya kutaksir sudah tujuhpuluhan. Terlihat dari tampak jelasnya guratan dan lipatan keriput di wajahnya. Sudah lima bulan terakhir ini Mbah Yem menjadi langganan keluarga kami. Mbah Yem menjajakan aneka macam gorengan, seperti: mendoan (tempe), gedhang goreng (pisang goreng), tahu susur (tahu isi), badhak (bakwan), mentho ( sudah pernah mencicipinya? ini adalah salah satu makanan favorit saya sejak kecil, selain mendoan ), blanggem (singkong goreng), dan tape goreng. Untuk minumannya, beliau menjual teh manis dan kolak pisang, yang masing-masing sudah dibungkus dalam plastik bening. Selain membopong sebuah baskom, beliau membawa barang dagangannya dalam sebuah wakul (keranjang) dari anyaman bambu yang digendong di punggung. Pada bulan-bulan biasa, Mbah Yem biasanya lewat depan rumah kami sekitar jam setengah dua belas siang. Namun, karena menyesuaikan dengan keadaan, selama bulan puasa, Mbah Yem memilih sore hari untuk berjualan. Sekitar ja...

Muhammad Ali

*** Entah sebuah kebetulan atau tidak, hari ini (4 Juni 2016), ketika saya membuka-buka sebuah majalah, saya mendapati sebuah liputan berita yang menampilkan sebuah foto dengan latar belakang tulisan yang cukup jelas: “ The Greatest of All Time ”, dan tampak jelas pula seseorang yang dimaksud oleh kalimat tadi: Muhammad Ali, sedang menjalani satu partai adu jotos dengan lawannya (entah siapa saya tidak dapat mengenalinya). Majalah yang saya baca tadi bukan majalah baru. Terpampang jelas warsa terbit di sampul depannya: Desember 2003. Tahun di mana pantat saya masih setia menghangatkan bangku SMA kelas 2. Uniknya, majalah itu baru sampai ke tangan saya hari ini, baru sempat saya buka setelah lewat hampir 13 tahun pascakeluar dari dapur cetaknya. Tema besar edisi majalah tersebut pun memang benar-benar besar: “Mencari Magnum Opus ”. Masih di hari yang sama pula, dunia kehilangan Pak Ali yang berjuluk The Greatest of All Time tadi. Entah sebuah kebetulan atau tidak. Di anta...

Seorang Pemecah Karang

*** Suatu hari, di tepi pantai, terdapat seorang pemuda yang sedang memecah karang. Itulah pekerjaan sehari-hari pemuda itu. Sejak ditinggal pergi untuk selamanya oleh ayahnya, si pemuda itu menjadi tulang punggung keluarga. Bersama ibu dan kedua adiknya yang masih kecil, pemuda itu kini menggantungkan hidupnya pada pekerjaan yang kini digelutinya: memecah karang. *** Dengan bermodal sebuah kapak khusus untuk memecah karang, si pemuda memulai pekerjaannya. Tak kenal lelah dia bekerja. Ketika sedang melakukan pekerjaannya itulah, dari jauh terlihat rombongan iring-iringan putra raja melintas. Seketika dia menghentikan ayunan kapaknya, dan melihat iring-iringan itu. Dalam hati dia berkata, “Andai aku seorang putra raja. Hidupku pasti tidak akan susah seperti ini. Ingin apa tinggal tunjuk. Semua keinginanku pasti bisa terpenuhi.” Tiba-tiba saja ucapannya tersebut menjadi kenyataan. Seketika pemuda itu berubah menjadi putra raja. Si pemuda kini berada di tengah iring-iring...

Sebuah Cincin

*** Semasa hidupnya, kakek adalah orang yang mengutamakan kesederhanaan dan kebersahajaan. Hal ini tampak dari pakaian yang dikenakannya sehari-hari. Kakek tidak pernah mengenakan pakaian yang bagus dan mahal. Malahan sebaliknya, kakek lebih sering menggunakan pakaian yang sudah lusuh, karena dipakai berulang kali. Padahal secara materi, kakek adalah seseorang yang serba berkecukupan. Terlebih lagi, kakek adalah salah satu orang dermawan di kampungnya. *** Suatu hari aku memberanikan diri untuk menanyakan kepadanya perihal itu. “Kek, mengapa Kakek tidak mau memakai baju-baju yang bagus dan mahal? Mengapa sehari-hari Kakek hanya berpakaian seadanya seperti itu? Padahal Kakek adalah orang kaya di desa ini, kan?” Tidak tampak ekspresi kaget di wajah kakek ketika mendengar pertanyaanku. Dengan seulas senyum, sambil mengelus kepalaku yang ketika itu aku masih berumur sebelas tahun, kakek mengeluarkan sebuah cincin dari dompetnya, dan memberikannya kepadaku. “Apa mak...

Tiga Wasiat Ayah

*** Sebelum meninggal, ayah berwasiat kepada kami, kedua anaknya, dengan tiga hal. Kami harus melakukan tiga hal tersebut jika ingin meraih kekayaan di dunia, begitu pesan ayah. Ayah tidak meninggalkan warisan sedikitpun berupa harta benda. Dalam surat wasiatnya, yang dibuat di hadapan notaris, ayah menyumbangkan seluruh kekayaan yang dimilikinya ke sebuah lembaga amal yang mengurusi anak-anak yatim dan kaum papa. Tiga wasiat ayah itu adalah: 1.       Dalam sehari, makanlah seratus ekor ikan. 2.       Ketika bekerja, jagalah kulitmu, jangan sampai terkena sinar matahari. 3.       Kalau meminjami uang kepada orang lain, jangan pernah menagihnya. Kami berdua cukup kaget dengan wasiat yang cukup membingungkan seperti itu. Kami yakin, kata-kata ayah tersebut bersayap. Sebelum kami sempat menanyakan maksud pesan itu, ayah telah pergi ke haribaan Sang Khalik. Setelah menguburkan jenazah ayah, kam...